LIVECHAT

cs1
cs2

 

     544-00-185-74

 


 

 

  07-00-00-5797-068

 




0504-01-01-1881-50-6

 

 

www.gangpulsa.com 

 

 

 

 

 

Menyusui VS Kanker Payudara

Menyusui Selamatkan Ibu dari Kanker Payudara
menyusui
KAMIS, 19 MARET 2009 | 00:17 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Selain baik bagi kecerdasan otak anak, menyusui juga dapat mengurangi risiko terkena kanker payudara bagi sang ibu, kata  dr. Dradjat R. Suardi, spesialis kanker payudara.
    
"Ibu menyusui dapat mengurangi risiko tekena kanker payudara sebesar 10-15 persen," katanya pada peresmian Yayasan Kanker Payudara Jawa Barat di Bandung, Rabu.
    
"Pupuk" kanker adalah hormon estrogen dalam tubuh. Ketika masa hamil dan menyusui, muncul hormon progesterone. Hormon ini kemudian meningkat dan melakukan proteksi, sehingga hormon estrogen tidak lagi dominan,katanya.
    
Ia menjelaskan, jika sang ibu menyusui setelah melahirkan, maka terdapat jangka waktu 27 bulan bagi sang ibu dimana hormon estrogen tidak dominan dalam tubuh.    Dikatakannya, bahwa dalam jangka waktu tersebut, risiko ibu terkena kanker payudara  berkurang.
   
Meskipun pupuk kanker berasal dari hormon estrogen, tidak berarti kaum pria terhindar dari risiko kanker payudara. 
   
Dalam tubuh pria juga terdapat hormon estrogen meskipun kadarnya tak sebanyak yang terkandung dalam tubuh wanita.
   
"Laki-laki itu juga punya kelenjar payudara, hanya saja tidak berkembang seperti perempuan," katanya lagi.
   
Risiko pria terkena kanker payudara adalah sebesar 1 persen. Gejala-gejala yang timbul pada pria yang terkena kanker ini serupa dengan wanita, seperti munculnya benjolan di payudara dan keluar cairan dari puting. 
   
Umumnya gejala kanker payudara pada pria lebih mudah dikenali dibandingkan dengan wanita.
   
"Kalau ada benjolan pada payudara lelaki akan lebih muddah terlihat, karena payudara mereka tidak berkembang seperti perempuan," tambahnya.